Monday, May 6, 2013

Kisah Pohon Apel 2

Lanjutan dari Kisah Pohon Apel

Berpuluh tahun berlalu Sang Pohon Apel yang dahulu rindang, kini hanya bersisa tunggul akar yang sudah dimakan usia. Hingga satu ketika, seorang lelaki yang semakin di mamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.

Sang Pohon Apel dengan sedih seraya berkata “Maafkan aku.. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada engkau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, dan batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.

Lelaki itu pun berkata “Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku pun sudah tak mahu dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku bahkan tidak mau batang pohonmu karena aku tak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.


Mendengar pengakuan lelaki tersebut, maka dengan senang Pohon Apel berkata
“Jika begitu maumu, istirahatlah di perduku,” lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan mereka berdua menangis bahagia.

Tahukah kamu sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita beranjak remaja, kita memerlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kemudian kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan.
 

Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dalam hidup kita. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu. Tetapi pikirkanlah sekali lagi, itulah hakikatnya sebagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka.  
Hargailah jasa ibu bapak kepada kita sepanjang masa.
***

Allah SWT berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Q.S 46:15]

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun mereka sudah tiada di dunia ini.

0 comments:

Post a Comment

Theme images by fpm. Powered by Blogger.

© 2011 Sepatah Kata, Sebuah Kisah, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena