Sepatah Kata, Sebuah Kisah

Tuesday, May 7, 2013

Ternyata Kau adalah Khalifah

Assalamu'alaykum sobat bloggers gimana kabarnya sore hari ini, semoga baik-baik saja. Sembari menunggu maghrib kali ini saya akan memposting tentang sebuah kisah yang saya ambil dari sebuah buku yang sudah dimakan usia, namun makna dibalik isi dari buku ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Suatu hari ketika Khalifah Umar bin Khattab R.A menunggu berita hasil pertempuran pembebasan Qadisiyah, datanglah sebagian rombongan pasukan yang pulang dengan menunggangi kuda. Dengan berjalan kaki, Khalifah Umar menghampiri salah seorang prajurit.

"Wahai saudaraku, ceritakanlah semua peristiwa yang terjadi di medan perang. Aku ingin segera mengetahui jalannya pertempuran itu." kata Khalifah Umar.
Dengan masih berada di atas punggung kudanya, si prajurit itu menceritakan jalannya pertempuran di Qadisiyah yang dimenangkan oleh pasukan Mulimin.
Prajurit itu terus bercerita sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan, sementara Khalifah Umar berjalan disampingnya mengikuti sambil mendengarkan.

Setelah berjalan cukup lama, tak terasa mereka telah sampai di perbatasan kota Madinah. Melihat kedatangan Khalifah Umar, masyarakat pun serentak mengucapkan salam kepada Khalifah.
Melihat hal itu, si prajurit pun sangat terkejut. Ternyata orang yang berjalan kaki mengikutinya adalah Khalifah Umar. Dengan menahan malu yang amat sangat, prajurit itu turun dari punggung kudanya lalu meminta maaf kepada Khalifah Umar.

"Maafkan saya yang bodoh dan buta ini, ya Amirul Mukminin. Dan mengapa anda tidak menceritakan terlebih dahulu bahwa anda adalah Khalifah Umar?" kata prajurit itu menahan rasa malu.
"Yang pasti, Amirul Mukminin itu bukanlah dirimu," jawab Khalifah Umar.

Nah gimana sobat bloggers menarik bukan ceritanya..?
Cerita diatas dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua, para generasi muda calon pemimpin bangsa. Semoga apa yang saya tulis dapat bermanfaat kurang lebih saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan, karena kebenaran hanyalah milik Allah semata.

Akhirukalam Wassalam..
Read More

Monday, May 6, 2013

Kisah Pohon Apel 2

Lanjutan dari Kisah Pohon Apel

Berpuluh tahun berlalu Sang Pohon Apel yang dahulu rindang, kini hanya bersisa tunggul akar yang sudah dimakan usia. Hingga satu ketika, seorang lelaki yang semakin di mamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.

Sang Pohon Apel dengan sedih seraya berkata “Maafkan aku.. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada engkau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, dan batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.

Lelaki itu pun berkata “Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku pun sudah tak mahu dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku bahkan tidak mau batang pohonmu karena aku tak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.


Mendengar pengakuan lelaki tersebut, maka dengan senang Pohon Apel berkata
“Jika begitu maumu, istirahatlah di perduku,” lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan mereka berdua menangis bahagia.

Tahukah kamu sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita beranjak remaja, kita memerlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kemudian kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan.
 

Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dalam hidup kita. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu. Tetapi pikirkanlah sekali lagi, itulah hakikatnya sebagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka.  
Hargailah jasa ibu bapak kepada kita sepanjang masa.
***

Allah SWT berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Q.S 46:15]

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun mereka sudah tiada di dunia ini.
Read More

Sunday, May 5, 2013

Kisah Pohon Apel

Yo.. Sobat bloggers sore ini saya akan memposting sebuah kisah yang insyaallah bisa memberikan sebuah inspirasi bagi anda semua.

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Cerita ini dimulai ketika itu terdapat sebatang pohon apel yang amat besar.Seorang anak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap harinya. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas hatinya, adakalanya setiap dia beristirahat kemudian dia terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut. 

Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. Pohon Apel melihat raut sedih di wajah si anak kemudian ia berkata, 

“Mari bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.
“Aku mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.
Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Jual lah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kau inginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ. Ia pun tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.
 


Masa pun berlalu…
Satu waktu, remaja itu pun kembali. Dia telah beranjak dewasa dan pohon apel itu merasa gembira kemudian berkata.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membangun sebuah rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?”, tanya anak itu.
“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Akan tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatkanlah rumah daripada-nya.”
Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel pun turut gembira tetapi kemudian ia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.



Lalu pada suatu hari yang panas, seorang lelaki paruh baya datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa. Pohon apel sangat gembira menyambut kedatangan lelaki tersebut seraya berkata.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Bolehkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu.
“Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan padamu. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel itu.
Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.

.......Bersambung......
Read More

Kisah Raja dan Empat Istrinya


Bismillahirrahmaanirrahiim..

Posting kali ini akan menceritakan sebuah kisah seorang Raja. Berikut selengkapnya selamat membaca.

Al Kisah ada seorang raja yang mempunyai 4 orang istri. Dari keempat istri tersebut, istri keempatlah yang paling dicintainya, beliau selalu ada disisi istri keempat kapanpun yang ia butuhkan. Begitu juga terhadap istri yang ketiga, sang raja selalu mencintainya meskipun tidak melebihi cintanya kepada istri yang keempat. Kemudian istri yang kedua, sang raja pun mencintai istri yang kedua, tetapi hanya pada saat istri keduanya membutuhkan sang raja akan ada di sisinya. Tetapi nasib malang menimpa istri yang pertama, ia seolah tidak memperdulikan akan kehadiran istri yang pertama. Kehidupan sang istri pun dicampakkan begitu saja. Sampai sang istri jatuh sakit pun sang raja tidak peduli sama sekali.

Hingga pada suatu ketika sang raja jatuh sakit dan beliau pun merasa dirinya sudah di akhir hayat. Kemudian beliau memanggil para istrinya, tak lama kemudian istri keempat datang, sang raja pun bertanya "wahai istriku yang paling kucinta, aku merasa hidupku tak kan lama lagi. Maukah kau menemaniku di alam kubur nanti?". Dengan santainya sang istri menjawab, "Maaf aku tidak bisa", kemudian ia pun pergi. Melihat tingkah laku sang istri, raja pun menangis. Kemudian beliau memanggil istri ketiga dan menanyakan hal yang sama, namun jawabannya tetap sama. Sang raja tetap tegar dan memanggil istri kedua, tak lama istri kedua menghampiri sang raja. Lalu beliau menanyakan hal yang sama, dengan berlinang air mata sang istri pun menjawab, "Wahai rajaku, maaf aku tidak bisa menemani dirimu di alam kubur nanti, aku hanya bisa mengantarkanmu sampai ke liang lahat". Sang raja menjadi putus asa, hingga suatu saat seorang wanita yang tidak dikenalinya datang menghampirinya, lalu ia berkata, "Wahai rajaku, aku bersedia menemanimu di alam kuburmu". Sang raja terheran akan jawaban seorang wanita tersebut. Kemudian ia tersadar bahwa wanita tersebut adalah istri yang pertama. Sang raja pun terrharu mendengar jawaban yang tulus dari sang istri pertama. Beliau berkata, "wahai istriku maafkan aku yang telah menyia-nyiakan dirimu".

Sahabat Muslim, begitulah sepenggal kisah yang bisa kita ambil perumpamaan. Raja itu ibaratkan diri kita yang berkuasa penuh atas apa yang ada dalam diri ini. Lalu istri keempat itu ibaratkan tubuh kita, tubuh yang selama ini kita rawat, kita cintai, namun pada akhirnya tubuh ini akan hancur di alam kubur dan tidak bisa menemani kita di akhirat. Kemudian istri ketiga itu ibaratkan harta kita, harta yang selalu kita cari dan kita banggakan, tak akan menemani kita di alam kubur.

Lalu istri kedua itu ibaratkan keluarga, sahabat, tetangga.  keluarga yang selalu menyayangi kita, Sahabat yang selalu ada saat kita membutuhkan, takkan bisa menemani kita di alam kubur nanti, hanya bisa mengantar kita sampai ke liang lahat. tetapi istri pertama ini ibaratkan amal perbuatan kita selama di dunia, amal baik, iman kita-lah yang akan menemani kita sampai di alam kubur nanti.

maka dari itu janganlah kita menyia-nyiakan kehidupan kita selagi masih muda, perbanyaklah amal baik kepada sesama, perkuatlah iman - islam kita agar terhindar dari perbuatan yang sesungguhnya sangat merugikan kita.
Read More

Indahnya Menahan Amarah

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Sobat bloggers tahukah kalian kalau tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup itu berbeda-beda..?
Pastinya dilihat dari cara orang menanggapi suatu masalah kita bisa langsung melihatnya.
Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja seolang-olah persoalan menjadi sangat berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma'nawiyah (keimanan seseorang).

Pada dasarnya tabiat manusia itu beragam dan semua itu saling berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang dan lapang dada.

Adakalanya kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali dengan marah bahkan dengan cara menumpahkan darah, Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

Seseorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak dan mampu menahan diri dikala mendapat ejekan. Maka orang seperti inilah yang diharapkan mampu menghasilkan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat melampiaskannya. Maka kelak di hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan seluruh makhluk, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya."

Subhanallah, betapa indahnya menahan amarah.
Semoga artikel yang saya tulis dapat bermanfaat dan memberi inspirasi pada sahabat bloggers, kurang lebihnya saya mohon maaf karena saya juga seorang manusia yang tak luput dari dosa. Wassallam
Read More

Rahasia Hembusan Angin

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Khalik..
Kali ini saya akan memposting sebuah Puisi Rumi karya Jalalludin Rumi

Embusan angin di waktu fajar akan menceritakan rahasia kepadamu
Janganlah tidur kembali
Mintalah apa yang sungguh-sungguh kau inginkan
Janganlah tidur kembali
Orang-orang pergi kembali melalui ambang pintu
Tempat dua dunia bersinggungan 
Pintu itu terbuka lebar
Janganlah tidur kembali

semoga puisi diatas bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi anda. Wassalam
Read More

Pemberi Harapan

Kuatkan ikatan tekad
angkat tinggi-tinggi bendera harapan
berjalanlah menuju Allah
dengan sungguh-sungguh tanpa lelah
jika  rasa lemah mmenyerangmu
isi jiwamu dengan kekuatan Al-Qur'an
libas nafsumu, jangan kasih ampun
nafsu selalu mengajakmu menuju kebinasaan
Read More
Theme images by fpm. Powered by Blogger.

© 2011 Sepatah Kata, Sebuah Kisah, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena